Terima kasih kepada pengunjung blog. Jumlah kunjungan telah melewati 23.000. Nikmati postingan baru setiap Sabtu-Ahad
Tampilkan postingan dengan label Hot Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot Artikel. Tampilkan semua postingan

Menunggu Ledakan APBD Sumbar

Written By Unknown on Minggu, 08 Desember 2013 | 08.03

Sebentar lagi mungkin masalah APBD Sumbar 2014 akan meledak. Soalnya, sampai saat ini, kumpulan uang rakyat itu belum juga disahkan. Sementara, tenggat waktunya, mestinya telah lewat. Apa pangkal masalahnya? Sebagai pengesah, Pemprov-DPRD, selalu saling menyalahkan.

Pemprov telah menyerahkan rencana APBD sesuai jadwal. Tapi, pembahasannya lambat, bainsuik bak umang-umang. Perjalanan dinas anggota DPRD sungguh padat dan rapat. Tiap-tiap wilayah seperti ingin dijajakinya. Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan duit. Pemilu telah dekat.
 
Giliran ada waktu, Sekda pula yang didiktenya. Katanya, Sekda saja tak cukup. Karena ia tak bisa mengubah apa-apa, mesti langsung gubernur. Ini disampaikan sekaligus protes terhadap rencana gubernur keluar negeri.
 
Gubernur pergi bersenang-senang meninggalkan tugasnya. Tapi kalau dewan jalan-jalan, itu murni tugas! Gubernur menyalahi aturannya sendiri untuk berhemat.

Untung, Gubernur Irwan Prayitno pernah menjadi anggota DPR tiga periode. Jadi, dia hafal betul “isi perut” kebanyakan anggota dewan kita. Sekolahnya, paling panjang pula, kendati rambutnya lebat, tak licin seperti kesan profesor. Kepala terkesan profesor, belum tentu profesor.
 
Gubernur Irwan terbilang sabar. Kadang didikte oleh hal-hal sepele. Soal survei masalah, dia juga yang ditembak. Bantuan sosial dan dana hibah, itu langganan kritik. Dibentur-benturkan dengan aturan Mendagri. Kehabisan akal, dana safari dakwah PKS yang disebut.
 
Dana ini seperti tukak. Irwan menulis, Allah Itu Ada (Singgalang, 1/3/13). Polisi mestinya mengusut tuntas.
Pada masanya, Gamawan Fauzi juga pernah berang terhadap anggota dewan. Puncaknya, mungkin tak hanya muak, tapi muntah melihat kelakuannya. Tentu saja Gamawan selalu unggul berpolemik dengan anggota dewan. Irwan, jangankan menang, podo pun rada sulit menyebutnya.
 
Padahal, prestasinya di mana-mana. Penghargaan tiap sebentar. Dikritik, penghargaan tak dirasakan manfaatnya di masyarakat, dia cuek. Jalan terus. Ada pula pamong senior seperti ingin mensinyalir bahwa penghargaan itu bisa dibeli. Ini sama saja dengan menuduh Presiden kita bisa dibeli, karena penghargaan itu juga ada dari Presiden. Mungkin soal itu dia lebih berpengalaman.
 
Anggota dewan ingin pokok-pokok pikirannya masuk dalam APBD. Pemprov berasumsi pokok-pokok pikiran anggota dewan itu bukan kewenangan Pemprov. Malah tak sedikit yang tak matang. Kalau bermasalah, Pemprov kena, anggota dewan aman-aman saja. (Singgalang, 21/11).
 
Kini, semua uang dalam APBD itu sudah habis dibagi. Konon, proposal anggota dewan masih banyak yang belum masuk. Apalagi, ini APBD terakhir bagi anggota dewan untuk periode ini. Yang tetap duduk, top. Yang tidak, gigit jari. Tak sedikit yang hilang, tak tahu lagi rimbanya.

Bila APBD 2014 tak disahkan juga, agenda pembangunan otomatis bisa terhenti. Seluruh rakyat akan merugi. Apalagi gaji pegawai juga di situ. Gubernur bisa saja mengeluarkan Pergub seperti APBD Solok Selatan dulu yang juga mentok. Ada kuat ini jelas merugikan rakyat. (*)

Erizal

Singgalang 7 Desember 2013

Pegawai Negeri Sipil

Written By Unknown on Sabtu, 30 November 2013 | 09.01

Banyak orang berpendapat bahwa profesi se­ba­gai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan lagi pro­fesi yang menarik. Alasannya, gaji PNS (sesuai stan­dar gaji secara nasional) re­latif ke­cil dibandingkan peng­hasi­lan seorang pengu­saha. Pe­ngem­bangan karir di PNS lam­bat dan tantangan pe­ker­jaan juga relatif kecil, ka­rena pekerjaan PNS cende­rung rutin sepanjang tahun.

Apa­lagi be­lakangan ini untuk ja­di gu­ber­nur, bupati, wali kota, atau men­teri, tidak ha­rus meniti ka­rir dari PNS se­per­ti dulu.  Un­tuk jadi politisi, anggota DPRD atau DPR juga tidak harus dari PNS.
Namun faktanya ternyata banyak juga mas­ya­ra­­kat kita yang masih memilih dan mengi­dam­kan PNS sebagai profesi mereka.

Buktinya, berita pe­ngu­­mu­man penerimaan CPNS (calon PNS) merupakan berita yang se­lalu dicari-cari dan ditunggu-tung­gu. Setiap ada lowongan CPNS di­bu­ka, belasan ribu atau bah­­kan pu­luhan ribu orang pe­lamar men­daftar. Padahal, jum­lah yang diterima cuma sebagian kecil saja.

Akibatnya persaingan untuk men­dapatkan posisi  PNS sema­kin ketat. Untuk lolos diterima jadi CPNS seperti lolos dari lu­bang jarum. Berbagai upaya pun di­lakukan, baik berupa upaya po­sitif maupun upaya negatif.  Upaya positif dilakukan dengan mempersiapkan diri secara baik. Mu­lai dari menekuni kuliah, se­hing­ga memperoleh indeks pres­­­­tasi yang tinggi, sesuai de­ngan syarat minimal calon PNS. Bisa juga dengan melakukan per­siapan yang baik untuk me­ngi­kuti ujian CPNS, baik dengan mempelajari soal-soal ujian dan meng­gali informasi yang berhu­bungan dengan ujian.

Cara-cara negatif banyak juga yang berusaha menem­puh­nya. Misalnya kasak-kusuk men­cari calo yang konon kata­nya bisa membantu agar bisa lulus CPNS, atau mencari “orangkuat” yang juga bisa menolong/mem-bac­king seseorang agar bisa di­te­rima jadi CPNS. Sejumlah uang pelicin atau materi dalam berbagai bentuk mereka siapkan demi melaksanakan hajat untuk bisa menjadi PNS.

Dalam masa kepemimpinan kami sebagai gubernur Suma­tera Barat, tidak ada istilah calo atau uang pelicin. Semua tes di­la­ku­kan secara baik dan benar, tes di­lakukan mengunakan me­to­de ter­baru dan terbaik yang te­l­ah ter­­bukti kehandalannya. Juga ti­dak ada istilah koneksi atau fa­mili. Kalau memang tidak lu­lus dan tidak memenuhi sya­rat, siapa pun dia, adik kandung sekali pun, tidak bisa menjadi CPNS.

Yang menarik, ada catatan oleh hampir semua kepala SKPD yang telah menerima dan mem­pe­kerjakan CPNS baru hasil tes dan seleksi tersebut. ”Iyo pueh dan sanang kami mamakai mereka, Pak,” ujar sejumlah ke­pala SKPD. Menurut kepala-ke­pala SKPD, CPNS-CPNS baru ter­sebut nyaris tak ada cacatnya, si­kap, kinerja dan kualitas inte­lek­tual mereka benar-benar bisa diandalkan.

Dalam perjalanan waktu dan pe­kerjaan sehari-hari, CPNS/PNS yang berkualitas dengan yang tidak berkualitas juga akan ter­lihat berbeda nyata. Mereka yang berkualitas akan segera nampak kinerja dan prestasinya se­dangkan yang tidak juga akan te­r­lihat. Yang tidak berkualitas le­bih banyak berleha-leha dan be­rusaha membuang-buang wak­tu, me­reka akan tersisih de­ngan sen­dirinya.  Ada atau ti­dak mere­ka di kantor, sama saja.

Bukankah dengan mema­k­sa­kan diri, apalagi dengan cara-ca­ra yang tidak benar untuk men­jadi PNS hanya akan mem­buang-buang waktu, kesem­pa­tan dan uang saja? Negara pun jadi sia-sia menggaji orang yang ti­dak berguna seumur hidup, bah­kan sampai pensiun? Halal­kah uang yang mereka terima dan mereka berikan kepada anak istrinya?

Karena itu menurut saya tidak adanya gunanya memak­sa­kan diri menjadi PNS dengan ber­bagai cara, apalagi meng­gu­nakan uang pelicin dan cara-cara yang tidak terhormat lain­nya. Lu­lus jadi CPNS, lalu jadi pecun­dang, karir tak pernah beranjak naik, jadi mentimun bungkuk istilahnya, untuk apa? Lapangan kerja lain masih terbuka luas.

Mari kita jaga bersama agar seleksi CPNS tahun ini berjalan baik dan benar, tanpa calo, tanpa uang pelicin, juga tanpa beking-membeking. Tentu saja menjadi ke­wajiban dan tanggung jawab bu­pati/wali kota di daerah m­a­sing-masing mengawalnya. Insya Allah jika seleksi dilaku­kan dengan baik dan benar, akan di­peloreh PNS yang baik dan be­nar pula. Pada akhirnya, me­reka nantinya akan menjadi aparat negara yang baik dan mampu menyelesaikan masa­lah-masa­lah negara dan me­nga­yomi mas­yarakat dengan baik pula.

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 16 November 2013

Ketahanan Pangan

Written By Unknown on Minggu, 03 November 2013 | 06.21

Menyimak fenomena yang terjadi saat ini, nampaknya “Perang Dunia” tak lagi merupakan ancaman  paling utama di abad ini, maupun abad mendatang. Di abad sebelumnya, perang dunia memang merupakan ancaman paling menakutkan. Negara-negara maju berlomba-lomba  membuat senjata canggih pemusnah massal agar bisa menjadi negara super power penguasa dunia.

Negara-negara maju seperti unjuk gigi memiliki senjata nuklir yang sekali pencet tombol bisa menghancurkan sebuah pulau dan membunuh jutaan orang. Senjata itu mereka namakan  ICBM (intercontinental balastic missile), peluru kendali antar benua. Senjata kimia dan biologis pun ikut diriset dan dikembangkan agar bisa menjadi senjata pembunuh massal yang ampuh.  Blok Barat ingin memusnahkan blok timur, demikian juga sebaliknya. Negara-negara non blok juga tak mau ketinggalan.

Namun kini topik tersebut seperti terlupakan,  perang dingin antara timur dan barat telah mencair. Perlombaan senjata tak lagi menjadi topik utama. Topik beralih menjadi masalah ketersediaan pangan dunia. Ancaman terbesar penduduk dunia saat ini adalah ketersediaan pangan bagi penduduk dunia yang telah mencapai  5 miliar jiwa lebih. Penduduk dunia terus bertambah, sedangkan lahan pertanian terus berkurang. Apalagi perubahan iklim global yang ekstrim, ikut menyebabkan menurunnya kuantitas maupun kualitas produksi  pangan.

Ketersediaan pangan menjadi masalah krusial di negara manapun di dunia, masalah pangan telah dianggap menjadi masalah keamanan . Di Indonesia dikenal dengan istilah ketahan pangan, di tingkat internasional gencar dibahas masalah food security. Gangguan terhadap ketersediaan pangan memang telah terbukti berdampak terhadap keamanan, ekonomi  bahkan politik suatu negara. Contohnya di negara kita, kurangnya pasokan kedelai saja misalnya, bisa menjadi topik hangat yang dibahas sampai ke tingkat nasional.

Menurut cacatan organisasi pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa  (PBB), FAO (Food and Agriculture Organisation), hingga hari ini masih terdapat 826,6 juta penduduk dunia yang masih bertarung dengan kelaparan. Ini berarti, saat ini saja, hampir seperlima penduduk dunia masih dalam keadaan rawan pangan dan kelaparan. Jumlah ini diperkirakan terus akan bertambah secara pesat seiring dengan perjalanan waktu. Karena itu perlu dilakukan uapaya serius untuk mengatasi masalah tersebut.

Peduli dengan kenyataan ini, Organisasi Pangan dan Pertanian- Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO – UN) menggagas untuk melaksanakan peringatan Hari Pangan Sedunia. Ide tersebut muncul pada konferensi  umum ke 20 FAO bulan November 1979. Lalu sejak tahun 1981 dilakukan peringatan Hari Pangan Sedunia dan hari lahir FAO tanggal 16 Oktober (1945) dipakai sebagai tanggal diperingatinya Hari Pangan Sedunia (HPS). Kini, HPS diperingati secara bersamaan di lebih dari 150 negara di dunia yang memiliki kepedulian yang sama.

Lalu apa yang harus kita lakukan, terutama di Sumatera Barat? Secara sederhana ada tiga langkah yang perlu dilakukan. Langkah tersebut adalah, serius mengembangkan usaha pertanian dan peternakan, terutama penghasil pangan. Kedua adalah penghematan dan efisiensi pangan. Langkah ke tiga adalah diversifikasi pangan.

Ke tiga langkah tersebut juga telah diprogram dan didukung oleh pemerintah secara nasional, tinggal keseriusan kita melaksanakan.  Tentu kita berharap program tersebut berjalan sukses di Sumatera Barat agar kebutuhan pangan bisa tercukupi, agar tidak ada kelaparan karena kekurangan pangan di ranah tercinta ini. Bahkan kita berharap Sumbar bisa berbuat lebih baik lagi, sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia. 

Mari kita jadikan peringatan HPS di Sumatera Barat tahun ini sebagai momentum untuk menjadi lumbung pangan terbaik di Indonesia. Langkah tersebut selain berdampak positif terhadap keamanan dan kenyamanan kehidupan masyarakat Sumatera Barat, tentu saja juga berdampak meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat. Insya Allah jika kita serius, pasti kita bisa.  ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 31 Oktober 2013

Politik Mengaburkan Hukum

Written By Unknown on Sabtu, 26 Oktober 2013 | 15.23

Awalnya Sengman, lalu Bunda Putri. Keduanya sama-sama dibantah pihak istana. Malah, untuk Bunda Putri, Presiden SBY langsung turun tangan. Tak sekedar membantah, tapi juga turut menyerang. Presiden kan banyak! 1.000 persen berbohong! Bahkan, totalnya sampai 3.000 persen.

Untung kita punya pers yang kuat. Satu per satu terungkap bahwa kedekatan itu bukanlah isapan jempol. Yang awal, mulai diakui, tapi tak ada hubungan sama kasus. Kenal sekadar kenal, tak lebih. Yang kedua belum ada kabar, masih ditimbang, atau intelijen mungkin sedang bekerja.
 
Sebetulnya, nama Seng man dan Bunda Putri bukan nama fiktif yang sengaja dibuat-buat Ridwan Hakim atau Luthfi Hasan Ishaaq. Nama itu muncul justru dari hasil sadapan KPK. Nama lain juga banyak, tapi inilah yang paling menonjol, karena dikait-kaitkan dengan Presiden SBY.
 
Banyak yang menyayangkan, bantah-membatah pihak istana terhadap kedekatan dengan Sengman atau Bunda Putri, termasuk reaksi Presiden yang langsung mencap Luthfi pembohong. Ada apa ini? Psikolog Hamdi Muluk justru menilai kesaksian Luthfi bisa benar karena reaksi itu.
 
Tapi, tak sekali ini Presiden SBY terlihat marah di hadapan publik. Di tempat yang sama, Bandara Halim Perdana Kusuma, SBY juga pernah marah saat beredarnya SMS gelap atas nama Nazaruddin dengan nomor (+6584393907), yang saat itu disinyalir melarikan diri ke Singapura.
 
Isi SMS gelap itu kurang lebih sama, yakni gurita kasus korupsi yang sudah menyentuh istana. Tak jelas, ke mana pesan marah itu disampaikan? Mungkin kepada Nazaruddin yang saat itu entah berada di mana. Atau, kepada pihak-pihak yang sengaja mendompleng dalam kasus itu.
 
Tapi, yang pasti, setelah tertangkap, Nazaruddin memang membuat surat terbuka kepada Presiden SBY, yang meminta perlindungan terhadap istri dan anaknya. Anehnya, Presiden SBY menanggapi surat itu. Banyak yang mempertanyakan, tapi tenggelam dengan peristiwa-peristiwa lain. Nazaruddin memang tak menyinggung istana. Kini, adiknya, Nasir tetap jadi caleg nomor 1.
 
Pihak istana juga pernah membantah kedekatan Presiden SBY dengan Artalyta Suryani, saat Ayinsapaan akrabnyatertangkap dalam kasus suap jaksa Urip Sumo harjo. Saat itu jubir presiden Andi Mallarangeng, agak mirip dengan bantahan Julian Aldrin Pasha atas Sengman.
 
Tampaknya, pihak istana, termasuk presiden, kurang belajar sejarah. Atau, seperti kata banyak pengamat, presiden amat sensitif bila diri dan keluarganya dikait-kaitkan dengan korupsi. Jangankan Luthfi, SMS gelap saja dihantamnya! Yang lain boleh diduga korupsi, istana jangan!
 
Padahal, jauh hari, Wamen Hukum dan HAM Denny Indrayana, saat masih aktif menjadi pegiat antikorupsi telah mensinyalir bahwa salah satu episentrum korupsi adalah istana. Entahlah saat Denny masuk, episentrum itu telah beralih, karena peran sertanya, yang tak diketahui publik.
 
Luthfi, mungkin baru tahu reaksi marah Presiden SBY dari istrinya yang menjenguk nya, saat libur hari raya Idul Adha lalu. Tapi, kader PKS yang terkenal temperamental, Fahri Hamzah, telah langsung menimpali reaksi marah presiden itu. Ia mengatakan SBY jangan berlagak pilon.
 
Artinya, Luthfi tak akan ciut dan mengubah kesaksiannya, sebagaimana Nazaruddin yang membuat surat terbuka, lalu tiba-tiba fokus kepada Anas Urbaningrum, dan memicingkan mata saat ada dalam catatan Yulianis, Ibas juga pernah terima uang 200 ribu dolar dari perusahaannya.
 
Apalagi, secara politik, perang terbuka PKS-SBY bukanlah yang pertama kali. Fahri juga dihantam kader Demokrat. Farhan Effendy meminta Fahri diam! Sekretaris DPD Sulteng, Talitti Paluge mengatakan Fahri tak mencerminkan politisi Islam. Tapi, Fahri tetap minta SBY berlulur.
 
Diharapkan, politik tak mengaburkan kasus hukum. Apalagi 2014 telah menjelang. Luthfi berbicara di persidangan, di bawah sumpah.
 
Bila ada yang membantah, sebaiknya juga di bawah sumpah. Mau tak mau, Sengman dan Bunda Putri mesti dihadirkan agar semuanya menjadi jelas. (*)

Erizal (Direktur INCOST)


Singgalang

Ujian dan Pengorbanan

Written By Unknown on Minggu, 13 Oktober 2013 | 12.35

Sudah lama Nabi Ibrahim AS mendambakan seorang anak. Barulah menjelang usia senja istri Nabi Ibrahim, Hajar terlihat mengandung dan menjanjikan keturunan. Maka Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar.

Kemudian Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu dan diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar dan anaknya Ismail. Namun Allah menguji mereka. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim Hajar ke suatu tempat yang jauh, yang Nabi Ibrahim sendiri tidak mengenal tempat itu.

Dari Palestina dengan mengendarai onta, Nabi Ibrahim membawa  Hajar dan Ismail ke arah yang dia sendiri tidak tahu tujuannya. Namun ia yakin ada Allah akan membimbingnya. Setelah selama berminggu-minggu berjalan sampailah Nabi Ibrahim di sebuah daerah yang bernama Mekah. Saat itu daerah tersebut tidak berpenghuni. Dimana-mana hanya terlihat gurun pasir dan gunung-gunung batu, tak ada tanaman untuk dimakan juga tak ada air untuk diminum. Nampaknya di sinilah  Hajar dan Ismail diperintahkan untuk ditinggalkan.

Nabi Ibrahim tentu saja sangat sedih, namun beliau berkata kepada  Hajar:  ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya. Insya-Allah”

Setelah ditinggal Ibrahim, keadaan  Hajar dan Ismail sangat mengenaskan. Segera saja  Hajar kelaparan dan dahaga di gurun tandus tersebut. Akibat kelaparan, air susunya juga tak lagi menetes untuk menyusui Ismail. Ismail menangis terus-menerus menyayat hati. Kelaparan, kecemasan ditambah tangisan Ismail karena tak ada lagi air susu yang akan ia minum, membuat  Hajar menjadik panik. Ia berlarian kesana-kemari untuk mencari sesuap makanan atau seteguk air pengobat lapar dan dahaga.

Lalu  Hajar pergi ke bukit Safa, ia berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menolongnya, namun hanya batu dan pasir yang ditemuinya di sana. Dari Bukit Safa itu ia melihat bayangan air yang mengalir di atas Bukit Marwah, kemudian ia berlari lagi ke bukit Marwah, namun setelah sampai di sana yang dikiranya air, ternyata hanya bayangan fatamorgana belaka.

Diriwayatkan dalam keadaan yang tidak berdaya dan hampir putus asa, setelah 7 kali bolak balik antara Safa dan Marwah, datanglah malaikat jibril dan bertanya: “Siapakah sebenarnya engkau ini?” Kemudian  Hajar menjawab : “Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jibril bertanya lagi :” Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”,  hajar menjawab : “Hanya kepada Allah.

Lalu malaikat jibril berkata lagi : “Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat yang maha pemurah dan maha pengasih, yang akan melindungimu, mencukupkan keperluan hidupmu dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya”

Lalu  Hajar diajak  ke suatu tempat dimana malaikat jibril menginjakkan telapak kakinya kuat kuat di atas tanah. Atas izin Allah keluarlah dari bekas telapak kaki itu air yang begitu jernih. Mata air itu kemudian dinamakan mata air zam-zam yang tak pernah kering hingga saat ini. Keberadaan ini pula yang membuat kota Mekah makin lama makin tumbuh dan berkembang luar biasa hingga saat ini.

Ketika Nabi Ismail AS mencapai usia remaja, Nabi ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya tersebut.  Lama Nabi termenung menafsirkan mimpi itu. Sungguh amat berat ujian yang harus dihadapinya.  Namun sesuai dengan firman Allah: “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi Ibrahim menuju ke Mekah untuk menemui dan menyampaikan hal tersebut kepada putranya Ismail.

Seperti firman Allah dalam QS 2: 124,  Dan (ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ”(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataaan ayahnya : “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.  Kemudian dipeluknya Nabi Ismail AS dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata : “Bahagialah aku mempunyai seorang putra yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi Ismail AS, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia. Awalnya terjadi perang bathin di hati beliau, antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Namun akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan di leher Nabi Ismail AS dan penyembelihan pun dilakukan.

Akan tetapi, parang tajam itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail AS.  “Wahai ayahku, rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”.  Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya walau  Ismail telah ditelungkupkan lehernya dipotong dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih, datanglah wahyu Allah : “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan qibas”.

Kemudian sebagai ganti nyawa Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih seekor domba yang telah tersedia di sampingnya. Inilah Asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.

Dari kisah di atas bisa kita lihat betapa sebuah ujian, sebuah perjuangan, sebuah pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas selalu berujung dengan sesuatu yang indah, manis bahkan luar biasa. Mungkin  Hajar tidak pernah membayangkan kota Mekah yang dulu tak berpenghuni dan dimana ia dulu berurai air mata demi seteguk air, akan berkembang pesat menjadi kota modern seperti saat ini.

Di Idul Adha tahun ini mari kita renungkan kembali dan jadikan teladan kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang penuh ujian, perjuangan dan pengorbanan.  Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan daya juang, kesabaran menghadapi ujian dari Allah serta keihklasan untuk berkorban demi kemajuan bersama, dan tentu juga untuk diri dan keluarga kita sendiri. Semoga kita ummat yang bertaqwa. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 11 Oktober 2013

Perubahan Iklim

Written By Unknown on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 09.18

Kita tentu merasakan perubahan iklim yang terjadi belakangan ini. Suatu ketika suhu udara te­ra­sa menyengat dan panas se­­kali. Namun secara tiba-tiba berubah menjadi hujan le­bat dan angin ber­tiup ken­cang disertai ba­dai. Ren­tang waktu yang bia­sanya kita ke­nal sebagai mu­sim hujan, be­rubah men­­jadi panas dan ke­ring ke­rontang. Se­­ba­li­k­nya, ren­tang waktu yang bia­sanya mu­sim ke­marau be­rubah men­jadi mu­sim hu­jan ber­ke­pan­jangan dan ekstrem.

Secara tiba-tiba turun hujan lebat seperti dicurah­k­an dari langit dan terka­dang tak putus-putus dari pagi hingga pagi lagi. Aki­batnya terjadi banjir dan longsor di sejumlah tem­pat.

Juga tak ayal lagi wilayah Sumatera Barat yang banyak perbukitan mengalami longsor ter­ge­rus air. Daerah-daerah di dataran rendah, teru­ta­ma di pinggir pantai segera tergenang banjir.
­Termasuk, penyebab me­ning­­galnya anggota Mapala Unand akibat terseret arus su­ngai yang datang tiba-tiba.

Sebaliknya pada suatu ren­tang waktu yang tak terduga dan berbeda dari biasanya terjadi ke­marau ekstrem yang cukup pan­jang. Saat itu matahari ber­sinar sangat terik seperti marah, suhu udara panas luar biasa tanpa hujan setetes pun. Akibat lama tak turun hujan, banyak sawah-sa­­wah milik penduduk gagal pa­nen dan telantar karena keke­ri­ngan. Tak hanya itu, listrik pun eng­gan menyala karena minus air yang akan menggerakkan tur­bin PLTA. Padahal, PLTA me­ru­pakan andalan pem­bangkit te­naga listrik di Sumatera Barat.

Perubahan iklim (climate cha­nge) memang telah menjadi nyata dan telah diakui para ahli kli­matologi di belahan bumi ma­na pun. Kita sebagai mas­yarakat awam pun bisa merasakan dan bisa melihat sendiri buktinya. Pe­rubahan iklim telah menjadi per­hatian dunia, dan masalah glo­bal penduduk bumi, tak pe­duli di benua mana pun mere­ka bermukim dan dari bangsa dan ras mana pun mereka berasal.

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Indonesia misalnya, juga dirasakan dampaknya oleh negara tetang­ga Singapura, Malaysia, bahkan Thai­land. Pencemaran udara aki­bat pembakaran bahan bakar fosil (BBM) oleh pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor juga te­lah merusak lapisan ozon di at­mosfir bumi yang akan meng­aki­batkan pemanasan suhu bu­mi secara global  yang dikenal de­ngan istilah global warming.

Penyebab pemanasan global uta­ma adalah terjadinya efek ru­mah kaca (green house effect) yang terjadi di lapisan atmosfir. Pa­da akhirnya kerusakan-keru­sa­kan dan perubahan inilah yang me­­nyebabkan terjadinya peru­bahan iklim (climate change).

Bulan lalu Duta Besar Swiss untuk Indonesia Heinz Walker-Ne­derkoorn beserta sejumlah pa­kar meteorologi dunia ber­kun­jung langsung ke stasiun Global Atmosphere Watch (GAW), stasiun pengamatan at­mosfir global Bukit Kototabang. Stasiun yang didirikan lembaga Or­ganinasi Meteorologi Dunia (World Meterology Organi­sa­tion) terletak Nagari Bukik Ko­totabang Kecamatan Palupuh Ka­bupaten Agam, sekitar 17 kilometer dari kota Bukittinggi.

Di kalangan pakar meteo­ro­logi dunia nama GAW Bukit Ko­totabang cukup terkenal. Di du­nia hanya ada dua stasiun GAW saja yang secara repre­sen­tatif terletak persis di garis khatu­listiwa, yaitu di Mount Kenya dan Bukit Kototabang. Namun Bukit Kotatabang lebih istimewa ka­rena terletak di daerah keting­gian berhawa sejuk dan bersih serta dikelilingi hutan tropis yang masih alami. Secara umum Sumatera Barat juga relatif dekat de­ngan Samudera Hindia, se­hing­ga menarik untuk kajian meteorologi. Meski sama-sama terletak di garis khatulistiwa, namun Mount Kenya terletak di kawasan gurun pasir.

Kembali ke topik perubahan iklim, para pakar dari sekitar 80 negara telah mendirikan sekitar 30 stasiun GAW di berbagai negara untuk mengamati dan menganalisa perubahan iklim, pemanasan global, pencemaran udara dan aspek-aspek lainnya. Dengan demikian antisipasi dan solusi dari persoalan tersebut bisa ditemukan secara akurat.

Secara praktis tugas kita un­tuk mengatasi perubahan iklim, pemanasan global, pence­maran alam sebenarnya sederhana saja. Per­tama adalah mencegah pen­ce­maran terhadap udara, air maupun tanah. Kedua hindari me­rusak ekosistem lingkungan se­perti menebang pohon, mem­bunuh hewan yang nantinya akan merusak keseimbangan ekosistem.

Seperti firman Allah dalam QS 7:56; “Dan janganlah kamu mem­buat ke­rusa­kan di mu­ka bumi, sesu­dah (Allah) mem­per­baikinya dan berdoalah ke­pada-Nya dengan rasa takut (ti­dak akan diterima) dan pe­nuh harapan (akan dika­bul­kan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Niscaya manusia yang mela­ku­kan kerusakan di muka bumi, akan mendapat ganjaran yang se­timpal dengan perbuatannya ter­­sebut. Lingkungan yang baik, asri dan seimbang akan mem­bawa kemaslahatan dan kenya­ma­nan bagi manusia di muka bumi. (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 9 Oktober 2013

Teknologi Tepat Guna

Written By Unknown on Minggu, 29 September 2013 | 19.13

TTG (Teknologi Tepat Guna) sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Barat sejak dulu. Buktinya terlihat nyata dan masih mampu bertahan hingga sekarang.

Di daerah sekitar Batang Sinamar misalnya, banyak kita temukan kincir air yang berfungsi untuk menaikkan air sungai ke tempat yang lebih tinggi. Teknologi ini telah banyak membantu masyarakat mengubah lahan-lahan yang kering-kerontang menjadi lahan yang subur. Air tersebut selain digunakan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian, juga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Masyarakat di berbagai pelosok Sumatera Barat sejak dulu juga telah menggunakan teknologi kincir air untuk menumbuk padi. Sampai hari ini teknologi tersebut masih digunakan dan menjadi alternatif bagi mahal dan sulitnya BBM. Di daerah Lawang misalnya, juga telah lama digunakan teknologi sederhana menggunakan tenaga kerbau untuk mengilang tebu. Lalu air tebu ini diolah menjadi gula tebu.

Entah siapa penemunya untuk pertama kali, namun hingga hari ini teknologi sederhana tersebut di sejumlah tempat masih dimanfaatkan dan masih dirasakan manfaatnya. Berdasarkan definisinya Teknologi Tepat Guna adalah sebuah alat/teknologi sederhana yang diciptakan atau ditemukan oleh masyarakat secara swadaya, membutuhkan biaya yang relatif murah untuk membuatnya namun sangat bermanfaat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dengan demikian sangat jelas bahwa kincir air atau kincir penggilingan padi adalah sebuah Teknologi Tepat Guna (TTG) dan termasuk yang tertua di Indonesia.

Disadari atau tidak, penemuan Teknologi Tepat Guna terus bermunculan di dunia, termasuk di negara kita. Untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaannya, masyarakat berusaha berkreasi menciptakan alat dan berbagai teknologi sederhana. Meski pada awalnya hanyalah sebuah alat yang sederhana, namun sesuai dengan tingkat manfaatnya, tentu alat ini makin populer di masyarakat dan terus dikembangkan.

Misalkan saja pesawat udara. Dulunya pesawat udara hanyalah sebuah alat sederhana yang diciptakan Wright bersaudara yang bermimpi menjadi manusia pertama yang bisa terbang seperti burung. Namun kini, penemuan Wright tersebut terus berkembang menjadi berbagai teknologi penerbangan. Mulai dari pesawat penumpang yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan manusia sampai pesawat ulang-alik ke ruang angkasa.
Begitu juga pesawat telepon yang ditemukan pertama kali oleh Graham Bell. Dulu telepon hasil penemuan Graham Bell hanyalah sebuah alat sederhana agar manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain meski mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh. Kini, telepon telah berkembang pesat dan “bermutasi” menjadi smart phone seperti yang kita saksikan dan kita gunakan saat ini. Telepon kini telah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.

Listrik dan bola lampu ketika ditemukan Alfa Edison hanyalah sebuah alat sederhana yang mampu menghasilkan energi dan cahaya. Kini tentu kita tak bisa dipisahkan lagi dari listrik dan lampu. Begitu juga komputer, dulu hanyalah sebuah alat sederhana yang berfungsi untuk menghitung (berasal dari kata compute=menghitung). Kini perkembangan komputer sungguh luar biasa.

Kemarin, Kamis (26/09/2013) , merupakan hari bersejarah bagi perkembangan Teknologi Tepat Guna di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.  Menko Kesra Agung Laksono,Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta atas nama Presiden RI meresmikan acara Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke XV di komplek Stadion Agus Salim Padang.

Acara yang akan berlangsung selama 5 hari di Kawasan Stadion Agus Salim ini diikuti oleh utusan dari semua provinsi di Indonesia ini. Masing-masing daerah akan memamerkan berbagai hasil temuan teknologi tepat guna dan inovasi masing-masing. Ada banyak temuan-temuan baru yang mereka peragakan dan bisa dilihat langsung kehandalannya.

Kita berharap semoga temuan tersebut juga mampu menjadi cikal-bakal teknologi yang bermanfaat besar di masa datang. Acara ini terbuka untuk umum. Bagi masyarakat Sumbar, terutama pelajar, mahasiswa , kalangan perguruan tinggi serta msyarakat umum semoga iven ini memberi inspirasi bagi masyarakat atau para ilmuwan daerah ini untuk menemukan ide-ide kreatif untuk melakukan penemuan-penemuan baru. Amin…***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 27 September 2013

irwan-prayitno.com

Listrik

Written By Unknown on Sabtu, 21 September 2013 | 11.55

Hati bu Rina pagi ini sedih dan kecewa. Betapa tidak, sedang asyik menyeterika baju sekolah putri satu-satunya Santi, tiba-tiba listrik di rumahnya padam.  Baru baju Santi sebelah kiri saja yang selesai diseterika, bagian kanan baju itu kusut masai tak karuan. Padahal pagi ini Santi akan mengikuti upacara bendera, ia terpilih sebagai pembaca Teks Pembukaan UUD 1945. Apa komentar peserta upacara melihat pakaian Santi yang kusut sebelah? Mau digosok dengan seterika bara tempurung seperti dulu, sudah tak ada lagi ditemukan setrika seperti itu di zaman kini.


Pak Tino di pasar raya juga mengalami nasib serupa. Tengah asyik memangkas rambut pelanggan dengan mesin pangkas kesayanggannya, tiba-tiba listrik padam. Baru bagian sebelah kanan saja rambut pelanggan selesai ia pangkas. Pak Tino tak dapat berbuat apa-apa dan kecewa, ingin beralih ke mesin potong rambut manual seperti dulu, sudah lama tak lagi tersedia.

Listrik saat ini memang sudah menjadi kebutuhan vital, kita sangat tergantung pada ketersediaan listrik. Mulai dari kebutuhan rumah tangga seperti memasak nasi, mencuci, penerangan, hand phone  sampai  kebutuhan usaha besar dan kecil, apalagi industri, semua membutuhkan dan tergantung pada ketersediaan listrik. Itulah sebabnya ketika terjadi pemadaman listrik, hampir sebagian besar kegiatan masyarakat terganggu. Wajar jika masyarakat sangat kecewa.

Menurut  General Manager (GM) PT PLN Wilayah Sumbar Warsito Adi pemadaman listrik yang sering terjadi belakangan ini adalah akibat rusaknya sejumlah pembangkit listrik di Sumatera Barat, baik akibat dalam perbaikan dan perawatan rutin, maupun akibat kurangnya debit air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berkebetulan waktu kejadiannya bersamaan.

PLTU Ombilin yang selama ini menjadi pemasok listrik terbesar, pembangkitnya mengalami kerusakan sejak beberapa bulan terakhir. Kapasitas terpasang PLTU Ombilin yang semula 2×100 MW, kemampuan produksi saat ini cuma 1 x 80 MW, bahkan terkadang nol sama sekali. Karena memang sudah jadwalnya untuk diperbaiki, pembangkit yang masih bisa berproduksi 1 x 80 MW ini pun juga dinonaktifkan  total, dalam rangka perbaikan total pada seluruh pembangkit PTLU Ombilin.

Tiga PLTA andalan yang menjadi tulang punggung pembangkit listrik Sumatera Barat yaitu PLTA Batang Agam, PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak belakangan ini tak mampu berproduksi optimal. Hal ini disebabkan oleh musim kemarau yang cukup ekstrim dan di luar prediksi semula. Kurangnya debit air akibat musim kemarau pada akhirnya menyebabkan menurunnya produksi listrik di masing-masing pembangkit listrik tenaga air tersebut.  Padahal jika semua semua pembangkit itu berproduksi optimal, maka terjadi surplus listrik di Sumatera Barat. Namun akibat kemarau yang menyebabkan berkurangnya elevasi permukaan air danau dan Batang Agam,  bersamaan pula dengan terjadinya kerusakan di PLTU Ombilin. Maka tak dapat dielakkan lagi, terjadi defisit listrik yang cukup besar di Sumatera Barat.

Masalah serupa tidak hanya dialami oleh Sumatera Barat. Semua provinsi di Sumatera mengalami hal serupa. Jika kita bicara secara global, maka ada dua krisis yang akan melanda dunia dalam waktu dekat bahkan telah mulai dirasakan keberadaannya, yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis energi dirasakan akibat kebutuhan manusia akan energi yang terus meningkat, sementara sumber energi, terutama yang bersumber dari fosil (BBM dan batubara) makin menipis jumlahnya. Maka saat ini masyarakat dunia ramai-ramai melakukan percobaan dan penelitian untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan (non fosil) atau disebut juga dengan energi hijau.
               
Pemerintah Sumatera Barat tidak tinggal diam. Sejak dini kita juga sudah mencari sumber-sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat yang terus meningkat, namun juga ramah lingkungan. Sejak dua tahun lalu sudah dijalin kerjasama dengan Pemerintah Jerman untuk mengembangkan energi alternatif tersebut. Selain air yang sudah umum digunakan, tenaga matahari, angin, dan sampah (bio gas) juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Dengan memanfaatkan sumber-sumber tersebut sejumlah desa di Jerman misalnya, telah menjadi desa mandiri energi. SKPD terkait, sejumlah praktisi dan tokoh masyarakat Sumatera Barat sudah dikirim dan difasilitasi untuk belajar mengembangkan energi tersebut. Suatu saat, dengan dukungan masyarakat, di Sumbar diharapkan juga muncul desa2 mandiri energi.

Selain itu Sumatera Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang telah membangun pembangkit listrik geothermal. Namun tentu saja membangunnya tidak dengan simsalabim, langsung jadi. Pekerjaan raksasa yang membutuhkan dana triliunan rupiah itu sedang berjalan, kini pekerjaannya sudah mencapai sekitar 60 persen. Pembangkit listrik tenaga panas bumi yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan ini direncanakan selesai tahun 2015 dengan kapasitas 400 MW sd 600 MW. Satu pembangkit listrik yang ramah lingkungan ini saja idealnya sudah dapat memenuhi kebutuhan total Sumatera Barat yang hanya berjumlah sekitar 400 MW. Alternatif lain, meski tertunda cukup lama PLTU Teluk Sirih yang berlokasi di Bungus Insya Allah akan beroperasi beberapa bulan ke depan.

Kepada pihak PLN wilayahSumbar Pemprov meminta supaya : 1. Mempercepat upaya perbaikan mesin pembangkit yang rusak, 2. Membuat hujan buatan di lokasi-lokasi sekitar PLTA, 3. Memanfaatkan PLTD yang ada sebagai antisipasi, 4. Memanfaatkan pembangkit listrik yang ada di BUMN seperti PT Semen Padang, misalnya,  5. Mempercepat beroperasinya PLTU teluk Sirih, 5. Meningkatkan efisiensi listrik, 6. PLN bekerja lebih serius dan bersunggguh-sungguh.

Atas semua  ketidak nyamanan ini, kami atas nama Pemerintah Sumatera Barat dan semua pihak yang terkait meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat. Kami mohon masyarakat bersabar dan memberi dukungan agar masalah ini bisa segera kita atasi bersama secepatnya. ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 10 September 2013

irwan-prayitno.com

Sulit Air Sepakat

Written By Unknown on Sabtu, 24 Agustus 2013 | 17.37

Warga Sulit Air kembali memperlihatkan kekompakannya. Sabtu (10/8) melalui organisasi Sulit Air Sepakat (SAS), warga setempat menggelar musyawarah besar (Mubes) ke-21 guna memilih pengurus yang baru.
SAS adalah organisasi yang mewadahi perantau asal nagari yang terletak nun jauh di kaki bukit di Kecamatan X Koto Diatas Kabupaten Solok.

Letak kampung mereka boleh saja nun jauh di kaki bukit, jauh dari hiruk pikuk kota. Namun cara berfikir dan bertindak anak nagari Sulit Air nampaknya sudah mendunia (global).
 
Buktinya, pada mubes tahun ini, perantau Sulit Air dari hampir seluruh pelosok Indonesia bahkan mancanegara hadir pada acara tersebut. Dari mancanegara di antaranya datang dari Malaysia, Singapura, Jepang, Australia dan Amerika. SAS ternyata sudah lama punya kepengurusan (DPD SAS) di daerah tersebut. Kini SAS telah memiliki sekitar 100 di berbagai penjuru.

Pembukaan mubes berlangsung meriah. Ribuan masyarakat Sulit Air, baik yang berdomilisi di kampung maupun yang dari perantauan tumpah ruah memadati lapangan terbuka tempat berlangsungnya acara. Menurut panitia tak kurang 1.500 kendaraan roda empat tercatat sebagai rombongan pulang basamo SAS tahun ini?
 
“Jika setiap kendaraan membawa empat perantau saja, maka tak kurang 6.000 perantau pulang tahun ini?” ujar panitia. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat jumlah penduduk yang berdomisili di Sulit Air.
 
Ada dua fenomena menarik dari perantau Sulit Air. Pertama, mereka sukses di perantauan, kedua mereka punya kepedulian yang tinggi terhadap kampung halamannya. Lebih dari seribu mobil berbagai merek yang dibawa pulang basamo serta rumah-rumah mentereng yang dibangun di kampung merupakan bukti bahwa mereka sukses di rantau.
 
Kekompakan dalam organisasi SAS, semangat pulang basamo, berbagai fasilitas umum yang disumbangkan seperti jembatan, mesjid, sekolah dan banyak lainnya merupakan bukti kepedulian perantau anak nagari Sulit Air terhadap kampungnya. Sifat ini tentu patut kita acungkan jempol dan diapresiasi setinggi tingginya. Tradisi ini perlu terus dikembangkan dan dipertahankan.
 
Yang menggelitik pikiran saya, bisakah tradisi tersebut terus dipertahankan di masa datang? Atau perlu kita belajar dari SAS, bagaimana cara mempertahankan dan memupuk kecintaan mereka terhadap kampung halaman?
 
Logikanya begini, kenapa seseorang cinta kepada kampung halamannya? Jawabannya karena ia punya kenangan indah di daerah tersebut. Ia sejak kecil tinggal di kampung tersebut, sekolah di sana, tumbuh dan besar di sana. Kenangan indah itulah yang membuat ia rindu dengan tanah kelahirannya, cinta, dan ingin membangun kampungnya.
 
Kini telah terjadi perubahan, banyak generasi warga Minang tak lagi lahir dan dibesarkan di Minang. Bisa dipastikan kecintaan dan ikatan emosional mereka dengan Ranah Minang tak sekental pendahulunya yang tinggal dan dibesarkan di Minang. Tentu semangat pulang basamo dan semangat membangun kampung mereka tak sehebat generasi pendahulunya.

Masalah ini perlu kita pikirkan jalan keluarnya dari sekarang jika tak ingin tradisi pulang basamo dan perantau membangun hanya tinggal sejarah. Atau kita perlu belajar dan menggali pengalaman masyarakat Sulit Air jika mereka punya resep untuk mengatasi masalah tersebut ? (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

irwan-prayitno.com

Konteks Indonesia dari Enigma Demokrasi di Mesir

Written By Unknown on Sabtu, 10 Agustus 2013 | 09.27

Oleh Sapto Waluyo (*)

Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Mesir pasca-kudeta militer pada awal Juli 2013. Lebih dari 100 orang tewas dan 4.500 luka-luka, saat pendukung pro-legitimasi berkumpul di lapangan Masjid Rabiah al-Adawiyah, Naser City (Kompas, 28/7).

Yang mengerikan sebagian besar mereka tertembak peluru aparat di bagian kepala atau dada. Penembakan terjadi justru di tengah malam hingga pagi hari, saat pendemo sedang melakukan shalat tarawih dan mempersiapkan sahur.

Tragedi itu melengkapi pembantaian yang dilakukan di depan markas Garda Republik, tempat penahanan Presiden Muhammad Mursi. Sedikitnya 56 tewas dan lebih dari 700 luka-luka (BBC, 8/7). Dinamika politik Mesir mengalami setback, dari fajar demokrasi kembali ke malam gelap otoriterianisme baru.

Dalam konteks Indonesia yang masih mengalami transisi panjang sejak reformasi 1998, tragedi Mesir memberi pelajaran berharga. Perluasan demokratisasi dan pembentukan pemerintahan sipil yang kuat adalah agenda penting abad 21 (Oxford Manifesto, 1997).

Karena itu, perlu jeli ketika menyorot dinamika politik di suatu negara. Komentator emosional justru meruntuhkan argumentasi paling mendasar, bahwa kedaulatan sungguh-sungguh di tangan rakyat.

Komentar aneh antara lain dilontarkan Zuhairi Misrawi, analis politik Timur Tengah lewat akun twitternya. Politisi muda yang mengaku memperjuangkan prinsip demokrasi itu menilai, "Ikhwanul Muslimin ingin mengesankan kepada dunia senagai 'korban'. Padahal, mereka telah memprovokasi militer untuk melakukan tindakan biadab. Jika IM tidak melawan militer, maka tragedi berdarah itu tidak akan terjadi. Jadi kesalahan tidak sepenuhnya pada militer." (@zuhairimisrawi, 28/7)

Betapa naifnya pandangan Zuhairi, seakan IM menghargai nyawa rakyat begitu murah demi mencapai citra politik yang dibayangkannya.

Padahal, pimpinan IM tegas menyatakan, bahwa mereka memperjuangkan pemulihan legitimasi pemerintahan sipil berdasarkan konstitusi yang telah disetujui mayoritas rakyat dalam referendum 2012. IM tidak bergerak sendiri, tapi bersama kekuatan lain lintas-ideologi yang bernaung di bawah "National Coalition to Support Legitimacy".

Lebih jauh Zuhairi menuding, "IM juga pegang senjata dan bom bunuh diri. Ini yang menyebabkan militer harus mengambil tindakan keras. Puluhan militer dan rakyat Mesir ditembak dan dibom oleh IM dalam dua pekan ini. Mesir menuju perang saudara," (@zuhairimisrawi, 27/7).

Zuhairi menolak istilah pembantaian karena media Mesir yang dikutipnya menyebut "isytibakat" (bentrok).

Tudingan Zuhairi sungguh tak berdasar, karena insiden bentrok bersenjata terjadi di kawasan Sinai, kota el-Arish atau Rafah, yang memang selama ini dikuasai milisi bersenjata tak dikenal. Mereka tak ada hubungan organisatoris dengan IM. Bahkan, ada dugaan faksi militer Mesir yang selama ini membina, meski tak sepenuhnya bisa mengendalikan. Insiden itu justru memperlihatkan salah satu dampak kudeta adalah kerawanan di daerah perbatasan.


Problematika Demokrasi

Demokrasi menyisakan persoalan klasik, rakyat mana semestinya yang berdaulat? Rakyat yang ikut pemilihan umum (apapun pilihan politiknya) ataukah rakyat yang tak memilih alias Golput (apapun alasannya)?

Apakah rakyat yang mengeluarkan mosi tidak percaya lewat petisi atau turun ke jalan sama nilainya dengan rakyat yang datang ke bilik suara?

Pertarungan di kotak suara jelas lebih terukur untuk menentukan siapa pemenang dan siapa yang berhak memerintah. Tetapi, jika dua kubu demonstran sedang berhadapan, maka suara siapakah yang paling menentukan?

Dalam pemilu sekurangnya ada KPU selaku penyelenggara dan MK sebagai wasit, sedangkan adu kekuatan massa tak jelas siapa menjadi penengah. Itulah enigma demokrasi, misteri yang sulit dicerna.

Dalam kerangka problematik itu, simpulan Zuhairi tentang pergantian rezim di Mesir amat mencengangkan. Sebagai tokoh muda yang kencang menyuarakan demokrasi justru merayakan kudeta militer lewat artikel provokatif,

"Ikhwanul Muslimin Tumbang*" (Kompas, 5/7). Bukan kebetulan, Kompas pada hari sama menulis berita utama, "Demokrasi Tumbang di Mesir". Bukankah itu bermakna IM pendukung utama demokrasi di negeri piramida dan, "mafhum mukhalafah"-nya, kelompok yang menjatuhkan Mursi adalah anti-demokrasi?

Zuhairi menyatakan Mursi hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan memonopoli jabatan politik dan kantong ekonomi. Faktanya, Mursi yang mengangkat Menhan Abdul Fattah al-Sisi (menggantikan Marsekal Hussein Tanthawi, orang kuat Husni Mubarak) dan Ketua MK Adly Mansour (hakim agama yang sempat menjadi Wakil Ketua MA). Jika tidak dipromosikan Mursi, maka kedua tokoh itu tak akan tercatat dalam sejarah Mesir modern. Bukti lain, lima menteri dalam kabinet Mursi menyatakan mundur saat militer mengultimatum. Berarti mereka bukan loyalis Mursi atau IM.

Lalu, kelompok oposisi ingin jatah kekuasaan apa lagi?

Mengakhiri Darurat Militer

Tindakan drastik yang dilakukan Mursi dalam 100 hari pemerintahannya adalah mempercepat pensiun 70 jenderal loyalis Mubarak bersamaan dengan pencopotan Hussein Thantawi dan Sami Annan dari posisi Panglima dan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata.

Entah hal itukah yang dimaksud Zuhairi sebagai monopoli, padahal Mursi kemudian mengangkat perwira muda untuk mulai gerakan reformasi militer Mesir. Selain itu, sesuai konstitusi, Presiden Mursi berhak mengangkat Gubernur baru. Dari 27 posisi Gubernur, cuma 5 yang berafiliasi partai, selebihnya kaum profesional.

Figur baru yang menyulut kontroversi global adalah Gubernur Luxor yang dituduh tokoh Jamaah Islamiyah dan diduga terlibat dalam insiden penembakan turis asing di kota wisata itu pada 1997. Tuduhan itu tidak didukung oleh bukti peradilan dan semua orang tahu Jamaah Islamiyah telah berubah fundamental, menempuh jalur demokrasi-damai dan menjauhi cara kekerasan.

Kudeta militer saat ini justru dapat membangkitkan kembali bibit kekerasan yang coba dinetralisir di Mesir dalam satu dekada terakhir. Jika tokoh oposisi merasa diri mampu menjadi Gubernur, mereka dapat mengajukan nama dan ikut seleksi, bukan mendukung kudeta.

Sebenarnya Mursi telah melakukan gebrakan berupa mobilisasi militer Mesir menguasai kembali Gurun Sinai yang di masa Mubarak lepas ke tangan Israel. Hampir 70 persen lalulintas udara dan darat Mesir dulu dikuasai Israel.

Politik cerdas Mursi dicermati betul PM Israel Benyamin Netanyahu yang mengatakan, "Sikap Mursi jauh lebih berbahaya daripada nuklir Iran'. Sementara itu pemerintah AS memuji inisiatif Mursi memfasilitasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel, hingga terbukanya perbatasan Rafah mengakhiri blokade Jalur Gaza.

Militer Mesir memang "the real actor" dalam politik nasional, namun kini semua prajurit di bawah komando Panglima Tertinggi (Presiden).

Berdasarkan konstitusi baru, tak ada lagi kekuasaan Dewan Tinggi Militer (SCAF) yang tak terbatas. Dulu SCAF punya otoritas untuk membubarkan parlemen, membekukan partai hingga menangkap tokoh sipil tanpa proses peradilan.

Mursi mengakhiri kezaliman itu lewat Dekrit yang membuka jalan bagi penetapan konstitusi. Demi menghilangkan ketergantungan atas bantuan militer AS, Mursi berinteraksi dengan Rusia dan Jerman. Hasilnya, dalam dua bulan saja telah dikirim dua kapal selam tercanggih dari Jerman, walau
diprotes keras Israel.


Prioritas ekonomi

Alasan lain kudeta militer disebut Zuhairi karena Mursi mengabaikan pemulihan ekonomi, malah lebih sibuk mengutak-atik konstitusi yang bernuansa syariah. Benarkah?

Mursi mewarisi kondisi ekonomi terburuk dalam sejarah Mesir yang ditinggalkan Mubarak. Hutang luar negeri menumpuk, defisit anggaran mengancam.

Menurut "Strategic Analysis" (The Henry Jackson Society, 2013), cadangan devisa Mesir menciut dari 13,5 miliar dolar AS (2010) tinggal 4,8 miliar dolar AS. (2012).

Tahun 2008, ekonomi Mesir masih tumbuh 7,2 persen. Kemudian turun jadi 4,7 persen (2009), 5 persen (2011), dan naik sedikit 5,5 persen (2012). Akibat eskalasi politik yang digoyang terus oposisi, pertumbuhan ekonomi Mesir kini terpuruk 2,2 persen (awal 2013). Angka inflasi 2012 (7,3
persen) uniknya lebih rendah dari 2011 (11,8 persen).

Karena itu harga sembako relatif stabil, hanya BBM melonjak. Angka pengangguran meningkat
dari 12,06 persen (2011) menjadi 12,31 persen (2012). Begitu pula angka kemiskinan masih tinggi (40 persen).

Tak seorangpun sanggup melakukan keajaiban dalam waktu satu tahun, namun kebijakan ekonomi Mursi jelas-tegas memprioritaskan kecukupan pangan. Di era Mubarak produksi gandum domestik dibatasi maksimal 20 persen, sekarang sudah melampaui 60 persen. Dulu Mesir harus mengimpor gandung ke AS, sedang Mursi mengimpor dari negara yang lebih bersahabat demi menghemat belanja negara, sambil meningkatkan pendapatan petani lokal.

Sebagai bukti komitmen pro-kesejahteraan, Mursi menghapus hutang 40.000 petani yang memiliki pinjaman di bawah 10.000 pounds (Rp 30 Juta). "Bail out" untuk rakyat kecil.

Investasi memang sulit datang di tengah krisis politik, tapi kunjungan Mursi ke China (Agustus 2012) menghasilkan perjanjian investasi senilai 4,9 miliar dolar AS. Bersama investor Korea, Mursi merintis pembangunan pabrik Samsung terbesar di kawasan Arab, di Provinsi Bani Suwef, agar barang elektronik terjangkau masyarakat.

Pembangunan pabrik otomotif nasional, komputer, hingga peralatan militer sudah masuk dalam program kabinet Mursi. Semua rencana itu kini hancur.

Yang paling membuat gerah sebagian kaum liberal mungkin pengaturan penjualan "khamar" (minuman keras), meski hal itu sama sekali tidak mengganggu sektor pariwisata.

Ada lagi, pergantian Direksi yang mengelola Pelabuhan Suez yang di era Mubarak menghasilkan pemasukan sebanyak 5,6 miliar dolar AS per tahun. Mursi menargetkan Suez sebagai hub ekonomi global dengan penghasilan meningkat 100 miliar dolar AS per tahun. Revitalisasi Suez mengancam perdagangan di Dubai dan Kuwait, karena itu negara Teluk mendukung kudeta.

Konstitusi Islam?

Isu menyesatkan seputar konstitusi baru disebut Misrawi sebagai "konstitusi prematur" dan dituding meminggirkan hak kaum perempuan dan kelompok minoritas. Bila kita cermati lebih teliti konstitusi baru itu justru mengakui hak kaum perempuan dan minoritas yang tak pernah disebut
sekalimat pun dalam konstitusi lama produk militer.

Sangat aneh, apakah Zuhairi betul-betul membaca naskah Konstitusi 2012 atau sekadar mengutip
pendapat komentator Arab? Bandingkan konstitusi itu dengan Dekrit 33 pasal yang dikeluarkan rezim boneka Adly Mansour, sangat kontradiktif.

Konstitusi baru Mesir disetujui mayoritas rakyat (71 persen) dalam referendum 2012 menegaskan berakhirnya kondisi darurat militer selama lima dekade, digantikan sistem presidensialisme yang dipilih untuk masa 4 tahun.

Pembatasan masa jabatan Presiden itu dinyatakan dalam pasal 133, sehingga tak ada lagi presiden yang berkuasa sesukanya. Pergantian pemerintahan dilakukan melalui Pemilu, bukan kudeta.

Secara khusus pasal 232 konstitusi baru Mesir mengisolasi petinggi Partai Nasional Demokrat (yang berkuasa di era Mubarak) selama 10 tahun. Klausul itu mirip dengan kebijakan Vaclav Havel ketika menjabat Presiden Ceko di masa transisi (1993-2003). Apakah konstitusi macam itu yang dikritisi Zuhairi dan lebih menyukai Dekrit darurat?

Akan halnya klausul terkait syariahi Islam disebut dalam pasal pertama bahwa Mesir adalah "negara sipil" (bukan teokrasi) yang berdasarkan ajaran Islam Sunni. Dalam penjelasannya dinyatakan, posisi penting Al Azhar sebagai rujukan untuk merancang regulasi terkait warga Muslim. Jadi, tak ada yang disebut islamisasi konstitusi, karena ketentuan itu mirip dengan konstitusi di negara lain (seperti Malaysia yang menetapkan Islam sebagai agama negara dan Melayu jadi bahasa resmi).

Zuhairi begitu sengit mengecam "ikhwanisasi Mesir" -- sebuah istilah yang absurd, karena tak ada dalam dokumen organisasi IM atau "Freedom and Justice Party" sebagai sayap politik, apalagi kebijakan resmi Presiden Mursi.

Zuhairi lupa sikap terbuka Muhammad Badie (Mursyid Aam IM) yang pada hari terpilihnya Mursi dalam Pilpres putaran kedua menandaskan: "Hari ini rakyat Mesir memilih pemimpin baru. Saya, tak terkecuali, sebagai warga negara Mesir tunduk kepada kepemimpinan baru yang dipilih rakyat." Sejak itu, Mursi melepaskan tugas sebagai pimpinan FJP dan Maktab Irsyad IM (Ikhwan Web, 30 Juni 2012).

Ironisnya, Zuhairi kehilangan kritisisme tatkala menyinggung aksi kelompok Tamarrud (pembangkang), padahal itu mirip gejala awal Talibanisme. Kelompok yang tidak puas dengan pemerintahan sah, malah berkolaborasi dengan unsur militer menempuh jalan ilegal. Akan
halnya, pengaruh asing dalam kejatuhan Mursi cukup disimak kritik keras dari Dr. Aidh
al-Qarni, dai yang disegani di Timur Tengah, atas dukungan Kerajaan Saudi dan Emirat Arab untuk aksi militer.

Demokrasi sebagai sistem politik modern mengandung janji dan misteri. Ada faktor substansi (kedaulatan rakyat), ada pula aspek prosedur (penyelenggara, peserta dan pengawas pemilu serta pemutus perkara jika terjadi sengketa).

Daulat individu akan berbaur dengan legitimasi kolektif. Prinsip "one man, one vote, one value" tidak membedakan seorang jenderal yang memimpin pasukan besar, seorang pengusaha yang memiliki aset dan pegawai melimpah, seorang ulama/pendeta yang memimpin lembaga berpengaruh, dengan rakyat jelata (penjual martabak atau kopi di pinggir kota Kairo), semua punya hak/kewajiban sama.

Para jenderal, konglomerat dan sebagian ulama itu mendukung kudeta dan membatalkan putusan rakyat dalam kotak suara.

Demokrasi mempersilakan mantan loyalis rezim masa lalu untuk bertarung memperebutkan suara setelah masa "iddah" politik, asalkan mereka terbukti tidak melanggar hukum/HAM. Demokrasi juga memberi peluang bagi pihak yang kalah dalam pemilu untuk beroposisi dan berdemonstrasi. Tapi, demokrat sejati tak membiarkan militer merampas legitimasi demi membentuk rezim boneka.

Sejumlah aktivis dan tokoh independen hadir dalam demonstrasi pro-legitimasi pasca-kudeta, karena mereka percaya konstitusi 2012 dan kebebasan sipil merupakan keniscayaan. Mereka terkejut dengan sikap Presiden interim Adly Mansour yang memberangus kebebasan, menangkap politisi tanpa peradilan, membredel media independen. Bahkan, Menhan Abdel Fattah el-Sisi yang jelas lebih berkuasa dari Presiden Adly, secara terbuka memobilisasi demonstran dan menembaki rakyat sendiri.

Jika rakyat Mesir telah memilih perubahan fundamental untuk mengakhiri dominasi militer, mengapa kaum demokrat dan liberal di negeri ini (termasuk Zuhairi) masih menyangsikannya. Padahal, Mesir adalah negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI tahun 1945 dan tokoh IM menjadi pelopor pembentukan Front Pembela Kemerdekaan Indonesia.

Jauh sebelum Zuhairi lahir, kaum Islamis telah menunjukkan komitmen dan kontribusinya
untuk pembebasan negeri terjajah. Pengorbanan yang disaksikan dunia saat ini demi tegaknya legitimasi pemerintahan sipil hasil demokrasi yang beradab. (*)

------------
* Direktur Eksekutif "Center for Indonesia Reform" (CIR), alumni Hubungan Internasional Fisip Universitas Airlangga (Unair) dan S-2 S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU) Singapura.


antarajatim.com

Puasa dan Taqwa

Written By Unknown on Sabtu, 03 Agustus 2013 | 00.37

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri.

Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan, makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikat nya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. 

Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak. Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia, namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Taqwa adalah bekal terbaik untuk perjalan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS.2: 197; Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal.
\
Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam Alquran dan hadis Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin, kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan.

Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Alquran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam lailatul qadar.

Dalam QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman; Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.


Di sini jelas ditegaskan, tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertaqwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi ummat yang bertaqwa.
Taqwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketaqwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketaqwaan seseorang sebelum dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketaqwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketaqwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertaqwa, bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 23 Juli 2013

Puasa Kunci Kemajuan

Written By Unknown on Sabtu, 20 Juli 2013 | 21.18

Apa yang menyebabkan sebuah negara menjelma menjadi sebuah negara maju, makmur dan sejahtera? Negara-negara Eropa, misalnya. Semua serba ada di sana, income per kapita penduduknya terpaut jauh dengan negara lain.

Atau ambilah contoh negara di Asia seperti Jepang, Korea, atau Singapura, misalnya. Apakah karena sumberdaya alam negara mereka melimpah ruah yang membuat mereka sejahtera? Ternyata tidak.
Jepang misalnya, tidak satupun bahan tambang yang mereka miliki. Minyak, aspal, besi, semen dan seterusnya, semua mereka impor dari negara lain. Begitu juga Korea, sebuah negara kecil yang juga tidak memiliki kekayaan alam yang bisa diandalkan. Yang terjadi adalah konflik dan perang saudara berkepanjangan. Singapura apalagi, jangankan bahan tambang dan kekayaan alam, air, pasir dan hampir semua kebutuhan penduduknya didatangkan dari negara lain.

Lalu apa yang membuat mereka sukses dan sejahtera? Berdasarkan pengamatan dan tak terbantahkan, yang membuat mereka berbeda adalah perilaku dan sikap mental mereka. Mereka pekerja keras dan sangat disiplin. Karena sumbedaya alam yang mereka miliki terbatas, maka mereka hemat dan penuh perhitungan. Berbagai inovasi terus digali agar pemanfaatan sumberdaya alam lebih efisien, lebih baik dan lebih baik lagi. Kebersihan dan lingkungan dijaga agar masyarakatnya tidak mudah sakit dan selalu produktif. Sakit dalam kacamata mereka adalah pemborosan yang bisa dicegah sejak dini.

Islam telah lama mengajarkan sikap dan prilaku-prilaku teladan seperti yang dilakukan masyarakat di negara maju tersebut. Puasa misalnya, terutama puasa di bulan Ramadhan, merupakan sebuah isyarat bahwa manusia disuruh berhemat, mengendalikan hawa nafsu dan tidak menghambur-hamburkan sumberdaya alam secara berlebihan. Fakta yang cukup menyedihkan adalah kita “terpaksa” mengimpor gula, terigu, cabe, beras bahkan daging sapi dan berbagai kebutuhan pokok lainnya dari negara lain. Saya tulis “terpaksa” karena impor tersebut kita lakukan sebagai pilihan terburuk sebagai sebuah pemborosan devisa. Padahal sumberdaya alam kita tersedia berlimpah.

Lalu kalau kita lihat kenapa produk-produk Jepang bisa merajai pasaran, terutama elektronik dan kendaraan bermotor? Jawabannya adalah mereka memberikan kejujuran. Kejujuran akan berimplikasi kepada kepercayaan (trust). Kejujuran yang mereka tawarkan di sini adalah produk Jepang adalah yang terbaik, persis seperti apa yang mereka janjikan. Tidak ada kebohongan dan tipu daya di sana. Akibatnya timbullah kepercayaan (trust) terhadap produk-produk Jepang, terutama elektronik dan kendaraan bermotor, di seluruh dunia. Akibatnya Jepang menjelma menjadi negara kaya raya. Apapun bisa mereka beli.

Begitu juga barang-barang yang keluar dari Singapura, meski barang-barang tersebut bukan diproduksi di Singapura, tapi Singapura menambahkannya dengan jaminan trust, baik berupa kualitas, ketersediaan barang, proses penjualan dan pasca penjualannya. Maka orang dari manca negara pun berduyun-duyun berbelanja ke Singapura, termasuk Indonesia.

Padahal Nabi Muhammad SAW telah sejak ribuan tahun lalu mengajarkan dan mengamanahkan kepada umat Islam aspek kejujuran dalam berniaga. Katakan barang tersebut baik jika barang dagangan itu memang baik dan katakan terus terang jika barang tersebut memiliki kelemahan jika memang memiliki kelemahan atau cacat. Dilarang pula mengurangi timbangan.

Puasa selama sebulan penuh melatih dan mengingatkan kembali agar agar umat Islam memiliki nilai-nilai yang dimiliki dan menjadi syarat pokok masyarakat sebuah negara maju tersebut. Bahkan lebih lengkap dari itu. Mereka di negara maju saat ini merasa timpang dan ada yang kurang, meski mereka kaya raya. 

Kekurangannya adalah mereka lemah dalam praktek ibadah dan hubungan dengan Tuhan. Hubungan secara horizontal baik (hablumminannas), tapi tidak baik dalam hubungan vertikal dengan Tuhan (hablumminallah).  Dalam puasa selama bulan Ramadhan semua nilai-nilai itu lengkap diajarkan dan umat Islam disuruh melatihnya selama sebulan penuh. Tinggal kita mengamalkan dan mengahayatinya secara benar. Jika semua amalan selama bulan puasa itu dilakukan bangsa Indonesia secara benar dan terus diperbaiki dan disempurnakan dari tahun ke tahun, saya yakin bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan makmur. Malah lebih lebih baik dari bangsa lain, maju dan makmur di dunia, namun juga maju, makmur dan sejahtera di akhirat. Amiin…. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 15 Juli 2013

Puasa vs Laju Inflasi

Written By Unknown on Sabtu, 13 Juli 2013 | 11.17

Kita tentu sedih dan sedikit tersentak dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta kebutuhan sehari-hari pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga barang-barang tersebut  sontak meningkat tajam. Hal serupa sebenarnya selalu terjadi setiap tahun di saat menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Namun tahun ini porsinya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena bersamaan dengan peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Beban tersebut tentu makin dirasakan masyarakat, karena juga bersa­maan dengan datangnya tahun ajaran baru. Para orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya anak masuk sekolah atau kuliah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Para orangtua juga harus menyisihkan sejumlah uang untuk beli buku, peralatan dan seragam sekolah.

Fenomena anomali tersebut memang selalu terjadi setiap tahun selama bulan Ramadhan (puasa). Di saat Allah me­ngan­jurkan kita untuk berpuasa, di saat kita hanya diperbolehkan makan dan minum di malam hari, justru pengeluaran keluarga di bulan puasa malah meningkat. Kaum ibu makin mengeluh, karena uang belanja sehari-hari tidak mencukupi untuk meme­nuhi kebutuhan sehari-hari se­lama bulan Ramadhan.

Apa yang terjadi? Berda­sarkan pengamatan lapangan, memang biasa terjadi penu­runan jumlah penjualan beras selama bu­lan Ramadhan, kare­na umum­nya masyarakat ber­puasa. Na­mun terjadi kenaikan untuk membeli bahan makanan lain. Anggaran lauk pauk justru me­ning­kat, anggaran untuk mem­beli “pabukoan” yang di hari-hari biasa tidak ada, di bulan puasa justru tinggi secara signifikan.

Maka makin pusinglah para ibu-ibu mengatur uang belanja dapurnya. Di sisi lain, otomatis berlaku hukum ekonomi. Jika permintaan meningkat, semen­tara persediaan barang terbatas, maka harga otomatis juga akan meningkat. Kondisi ini seperti bak kata pepatah: sudah jatuh ditimpa tangga. Harga barang-barang naik mengikuti kenaikan harga BBM, ditambah lagi de­ngan meningkatnya permintaan konsumen “menyambut” bulan puasa. Maka laju inflasi makin menjadi-jadi.

Lalu apa solusinya? Solusi yang termudah yang bisa kita lakukan saat ini adalah kembali ke konsep dasar puasa. Puasa kunci dasarnya adalah mengen­dalikan hawa napsu, mengen­dalikan sikap dan perilaku, serta meningkatkan ibadah. Dengan mengendalikan hawa nafsu, terutama makan dan minum, insya Allah kita bisa me­ngen­dalikan membengkaknya kebu­tuhan belanja di bulan puasa dan pada akhirnya mampu menekan gejolak harga pasar dan pada akhirnya mampu menekan laju inflasi.

Fenomena bulan puasa yang terjadi selama ini sebaiknya perlu dikoreksi. Puasa tidak lagi seka­dar mengurangi konsumsi beras, namun meningkatkan konsumsi bahan makanan lain yang harga jualnya justru jauh lebih tinggi. Kita bisa memilih bahan ma­kanan yang lebih murah, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi terutama energi yang di­butuhkan.

Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta yang di­miliki dan banyak serta mewah­nya makanan yang kita makan. Banyak orang yang kaya raya dan hartanya berlimpah, tapi mereka tidak bahagia. Banyak juga orang yang menderita berbagai pe­nyakit, karena makan makanan serba mewah dan berlebihan. Di situlah letak pentingnya pengen­dalian diri, memperbanyak iba­dah (selama bulan puasa) yang membuat jiwa selalu merasa tenang dan tentram. Itulah hik­mah berpuasa.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah akan menunjukkan berbagai jalan (subula) bagi orang-orang yang sabar dan bertakwa. (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 9 Juli 2013

irwan-prayitno.com

Kuasa dan Penjara

Written By Unknown on Minggu, 07 Juli 2013 | 11.30

Sejarah selalu menyediakan keajaiban.

Belum lama kita bergembira, dan memposting kegembiraan dengan penuh suka cita. Coba ingat kalimat-kalimat ini, rasanya masih terngiang di telinga kita... Rasanya belum lama kita ramai mempostingnya...

"Sungguh ajaib penjara Mesir. Nabi Yusuf a.s masuk ke dalamnya dan setelah keluar diangkat menjadi Raja Mesir. Dr. Muhammad Mursi masuk ke dalamnya dan setelah keluar juga diangkat menjadi Presiden Mesir.”
(Ismail Haniya, Perdana Menteri Palestina)

"Kesuksesan Mursi merupakan kesuksesan seorang presiden yang lahir dari jalanan Mesir atas keinginan revolusi dan para revolusioner. Kami memandang kemenangannya merupakan langkah awal menuju anak tangga kebangkitan Mesir"
(Muhammad Nur, Juru Bicara Partai An-Nur, Salafi)

"Kemenangan Mursi adalah kehendak Ilahi. Buah dari saham kebaikan yang telah lama ditanam Ikhwan. Akumulasi kebajikan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan hati menggerakkan tangan untuk memilih Mursi."
(Anggota Ikhwan)

"Penjara adalah masa lalu, masa kini adalah pelayanan, dan masa depan adalah kejayaan. Allah yang mentaqdirkan segalanya, dan Ia mensyaratkan kita untuk bekerja meraihnya."
(Anggota Ikhwan)

"Saya berharap semoga Allah SWT memudahkan jalan Anda untuk membawa rakyat Mesir menuju kemajuan dan keberhasilan"
(Ahmadinejad, Presiden Iran)

"Kita berminat bekerja bersama-sama dengan Presiden terpilih Mursi, dengan dasar saling menghormati, untuk memajukan kepentingan bersama antara Mesir dan Amerika"
(Barack Obama, Presiden AS)

Hmmmm... Kini kita memposting berita dan kemarahan. Kini kita memposting emosi dan ledakan kesedihan. Kita memposting pertanyaan dan tidak ada jawaban....

Begitu dekatnya penjara, kekuasaan, dan penjara, dan kekuasaan....

Dari penjara berkuasa. Dari kuasa ke penjara. Jaraknya hanya sedepa.

Akhukum, Cahyadi Takariawan

Krisis Pemimpin

Written By Unknown on Minggu, 16 Juni 2013 | 12.35

Ratusan siswa dan mahasiswa kota Padang tertegun sesaat mendengar  jawaban spontan Wakil Presiden RI  Prof. DR. Budiono saat acara silaturahmi dengan beliau di gedung serbaguna SMA 1 Padang. Beliau mengisahkan kehidupannya masa kecilnya menjawab pertanyaan salah seorang siswa.

“Saya dulu sekolah di SD Muhammadiyah, sebuah sekolah sederhana, sekolah dasar satu-satunya yang ada di kota kecil Blitar, Jawa Timur saat itu”. Kondisi sekolah tersebut sagat bertolak belakang dengan keadaan sekolah saat ini, dindingnya terbuat dari bambu dan berlantai tanah. “Kami ke sekolah saat itu tidak memakai sepatu, karena sepatu saat itu masih merupakan barang langka dan mahal,” imbuh wapres.

Namun kondisi tersebut tak menghalangi beliau untuk maju. Kelahiran Blitar, 23 Februari 1943 yang suka mandi di kali dan gembala kambing ini berhasil meraih Gelar Bachelor of Economics dari Universitas Western Australia, lalu gelar Master of Economics  dari Universitas Monash Australia dan  mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania, AS.
Perjalanan karir  “anak desa” ini juga cukup menonjol, yaitu  guru besar fakultas ekonomi UGM,  Gubernur Bank Indonesia, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas serta  Menteri Keuangan. Saat ini beliau menjabat wakil presiden RI.

Karena itu menurut Wapres pemimpin itu bisa lahir dan muncul dari mana saja dan dari golongan manapun. Sumatera Barat menurutnya sejak dulu terkenal sebagai penghasil intelektual dan cendikiawan, baik berkaliber nasional maupun internasional seperti Bung Hatta, Syahril, Hamka Agus Salim, Natsir dan sederet nama lainnya.

Kini menurut Wapres mulai langka muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas ke permukaan. Bisa dikatakan, kita mengalami krisis pemimpin, tidak hanya di Sumatera Barat, di daerah-daerah lain pun tak banyak muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan fenomenal seperti dulu. Padahal Indonesia butuh banyak pemimpin yang diharapkan mampu membawa bangsa ini menuju kejayaan.

Menurut Wapres ada 4 syarat untuk jadi pemimpin: 1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan, 2. Memiliki karakter, 3. Sikap mencintai Tanah Air (nasionalisme) dan 4. Bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan.

Syarat 1, yaitu memiliki pengetahuan dan ketrampilan, jelas mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Memiliki karakter berhubungan dengan kualitas sikap mental seorang pemimpin. Rasa nasionalisme penting bagi seorang pemimpin, karena semangat inilah yang akan menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air dan ketulusan untuk membangun bangsa dan negara. Sedangkan sikap bersungguh-sungguh juga sangat penting karena pekerjaan apapun yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh, pasti hasilnya akan baik.

Saat bersamaan Wapres menantang para siswa dan mahasiswa Sumatera Barat untuk tampil sebagai pemimpin beberapa tahun ke depan. “Kami-kami ini segera akan lengser dimakan usia, giliran kalian-kalian lah yang harus tampil sebagai pemimpin yang baik berikutnya.” Ujar Wapres.

Sejarah telah membuktikan bahwa Sumatera Barat adalah daerah penghasil pemimpin dan tokoh-tokoh nasional. Jika kita serius dan bersungguh-sungguh, bukankah sejarah itu bisa terulang kembali? Dengan fasilitas minim, sekolah sederhana, bertelanjang kaki ke sekolah bisa melahirkan Wakil Presiden, dengan fasilitas yang lengkap, sekolah mentereng,  bukankah seharusnya bisa melahirkan lebih dari Wakil Presiden?
Sumatera Barat harus menjawab kerisauan Wapres akan terjadinya krisis pemimpin di negara ini. Pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh terbaik harus terlahir lagi dari bumi Ranah Minang ini.  ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 15 Juni 2013

irwan-prayitno.com

TdS Makin Semarak

Written By Unknown on Minggu, 09 Juni 2013 | 10.39

Acara bergengsi bertaraf internasional dengan tajuk Tour de Singkarak (TDS) tengah digelar. Tahun ini merupakan kali kelima. Sejumlah jurnalis menggambarkannya sebagai sebuah “Lomba Balap Sepeda di Surga Khatulistiwa.”

Memang di situlah letak keistimewaan Sumatra Barat. Keindahan alam membentang luas hampir di semua pelosok, mulai dari dataran tinggi sampai lembah, ngarai dan pantai. Mata seakan-akan tak pernah puas memandang dan mengagumi rahmat dan karunia Tuhan yang luar biasa itu. Para fotografer sekan-akan tak pernah kekurangan bahan untuk mengangkatnya menjadi ribuan karya foto yang spektakuler.

Lima tahun waktu berjalan, ajang TdS membuat Sumatra Barat makin dikenal dan disayang. Seperti kata pepatah, “Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang.” Kini, setelah 5 tahun TdS berjalan, Sumatra Barat makin dikenal dan dicintai. Jika tahun lalu diikuti 16 negara, tahun ini 27 negara. Kita yakin jumlah tersebut terus bertambah dan bertambah dari tahun ke tahun.

Antusiasme masyarakat menyaksikan TdS juga meningkat luar biasa. Saat pembukaan Sabtu (1/6) malam lalu yang dihadiri Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar di pelataran Jam Gadang Bukittinggi, masyarakat tumpah ruah. Diperkirakan jumlah masyarakat yang menyaksikan pembukaan TdS tahun ini, sekitar dua kali lipat tahun sebelumnya. Ditambah dengan dentuman semarak cahaya kembang api serta kehadiran group band kondang Purwacaraka Big Band membuat suasana Bukittinggi saat itu makin meriah dan semarak.

Saat start yang ditunggu-tunggu juga tak kalah berkesan. Sejak pagi para pebalap yang mayoritas merupakan warga asing tampak antusias, seolah-olah tak sabar menunggu bendera start diangkat oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu. Masyarakat datang lebih banyak lagi memadati pelataran Jam Gadang menunggu detik-detik dimulainya lomba yang selain menyuguhkan keindahan alam juga menawarkan hadiah milyaran rupiah.
 
Seperti yang diharapkan, meningkatnya kedatangan pengunjung ke Bukittinggi akan mendongkrak geliat ekonomi di kota sentral wisata Sumatra Barat itu. Secara kasat mata, apa yang diharapkan itu memang jadi kenyataan. Boleh dikatakan, semua hotel di Bukittinggi penuh, meski umumnya telah memanfaatkan extra bed. Pusat-pusat kuliner dan souvenir juga terlihat bergairah karena diserbu para pembeli. Hal itu tentu akan mendongkrak ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha bagi kita.
 
Masyarakat luas bahkan dunia telah tahu dan kenal Sumatra Barat, kita tentu ingin mereka cinta dan rajin berkunjung ke sini, agar peluang ekonomi itu makin terbuka. Karena itu tugas kita adalah memberikan yang terbaik dan memberikan kesan yang baik kepada mereka. Jika menawarkan jasa kuliner, berikanlah kuliner yang terbaik.
 
Begitu juga jika menawarkan souvenir, berikanlah souvenir terbaik dan berkualitas. Jangan kecewakan mereka, buktikan, orang Minang adalah masyarakat yang berbudaya tinggi, jangan buat mereka kapok untuk datang lagi. Jangan berikan kesan yang jelek yang membuat mereka memberikan penilaian negatif tentang Sumatra Barat.
 
Mari bersama-sama menyukseskan TdS, mari saling bahu-membahu untuk membuka peluang perbaikan ekonomi bagi ranah yang indah dan kita cintai ini.

Sekali lagi, TdS kali ini beda dari yang sudah-sudah dan luar biasa. Bahkan, Wakil Presiden Boediono juga datang ke Sumbar di saat iven ini digelar. (*)

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar 
 
Singalang 8 Juni 2013

Kiprah Kami

More on this category »

Kolom Qiyadah

More on this category »

Jejaring Sosial


Topics :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011-2013. PKS Lubeg - All Rights Reserved - Email: pkslubeg@yahoo.com
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger